Jasa Kirim Mobil Makassar

Jasa Kirim Mobil Makassar

Jasa Kirim Mobil Makassar  adalah ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Makassar merupakan kota metropolitan terbesar di kawasan Indonesia Timur dan pada masa lalu pernah menjadi ibu kota Negara Indonesia Timur dan Provinsi Sulawesi. Makassar terletak di pesisir barat daya Pulau Sulawesi dan berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan.

Menurut Bappenas, Makassar adalah salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan MedanJakarta, dan Surabaya.[4][5] Dengan memiliki wilayah seluas 175,77 km² dan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa, kota ini berada di urutan kelima kota terbesar di Indonesia setelah JakartaSurabayaBandung dan Medan.[6][7] Secara demografis, kota ini tergolong tipe multi etnik atau multi kultur dengan beragam suku bangsa yang menetap di dalamnya, di antaranya yang signifikan jumlahnya adalah Suku MakassarBugisTorajaMandarButonJawa, dan Tionghoa. Makanan khas Makassar yang umum dijumpai di pelosok kota adalah Coto MakassarRoti MarosJalangkote, Bassang, Kue Tori, Palubutung, Pisang IjoSop Saudara dan Sop Konro.https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m18!1m12!1m3!1d127166.48872948744!2d119.33258692389668!3d-5.111314715514233!2m3!1f0!2f0!3f0!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x2dbee329d96c4671%3A0x3030bfbcaf770b0!2sMakassar%2C%20Kota%20Makassar%2C%20Sulawesi%20Selatan!5e0!3m2!1sid!2sid!4v1599718014102!5m2!1sid!2sid

Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jayapura
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Papua
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Manokwari
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Papua Barat
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Ambon
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Maluku
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sofifi
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Maluku Utara
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kendari
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sulawesi Tenggara
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sulawesi Selatan
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Palu
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sulawesi Tengah
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Mamuju
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sulawesi Barat
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Manado
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sulawesi Utara
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Gorontalo
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Samarinda
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kalimantan Timur
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Banjarmasin
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kalimantan Selatan
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Palangkaraya
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kalimantan Tengah
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Pontianak
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kalimantan Barat
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Tanjungselor
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kalimantan Utara
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kupang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Nusa Tenggara Timur
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Mataram
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Nusa Tenggara Barat
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Denpasar
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Bali
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Surabaya
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jawa Timur
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jogja
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Yogyakarta
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Semarang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jawa Tengah
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jakarta
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke DKI Jakarta
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Bandung
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jawa Barat
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Serang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Banten
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Lampung
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Pangkalpinang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Bangka Belitung
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Palembang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sumatera Selatan
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Bengkulu
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Jambi
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Tanjung Pinang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Kepulauan Riau
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Pekanbaru
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Riau
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Padang
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sumatera Barat
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Medan
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Sumatera Utara
Ekspedisi Kirim Mobil Dari Makassar Ke Aceh

Nama Makassar sudah disebutkan dalam pupuh 14/3 kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-14, sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit.[8] Walaupun demikian, Raja Gowa ke-9 Tumaparisi Kallonna (1510-1546) diperkirakan adalah tokoh pertama yang benar-benar mengembangkan kota Makassar.[9] Ia memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke tepi pantai, mendirikan benteng di muara Sungai Jeneberang, serta mengangkat seorang syahbandar untuk mengatur perdagangan.[9]

Pada abad ke-16, Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan disana dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut.

Selain itu, sikap yang toleran terhadap agama berarti bahwa meskipun Islam semakin menjadi agama yang utama di wilayah tersebut, pemeluk agama Kristen dan kepercayaan lainnya masih tetap dapat berdagang di Makassar. Hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat yang penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di Kepulauan Maluku dan juga menjadi markas yang penting bagi pedagang-pedagang dari Eropa dan Arab.Semua keistimewaan ini tidak terlepas dari kebijaksanaan Raja Gowa-Tallo yang memerintah saat itu (Sultan Alauddin, Raja Gowa, dan Sultan Awalul Islam, Raja Tallo).

Kontrol penguasa Makassar semakin menurun seiring semakin kuatnya pengaruh Belanda di wilayah tersebut dan menguatnya politik monopoli perdagangan rempah-rempah yang diterapkan Belanda melalui VOC. Pada tahun 1669, Belanda, bersama dengan La Tenri Tatta Arung Palakka dan beberapa kerajaan sekutu Belanda Melakukan penyerangan terhadap kerajaan Islam Gowa-Tallo yang mereka anggap sebagai Batu Penghalang terbesar untuk menguasai rempah-rempah di Indonesia timur. Setelah berperang habis-habisan mempertahankan kerajaan melawan beberapa koalisi kerajaan yang dipimpin oleh belanda, akhirnya Gowa-Tallo (Makassar) terdesak dan dengan terpaksa menanda tangani Perjanjian Bongaya.

Penamaan

Lambang Kota Makassar pada zaman penjajahan Belanda

Kota ini dahulu bernama Ujung Pandang dan dipakai dari kira-kira tahun 1971 sampai tahun 1999. Alasan untuk mengganti nama Makassar menjadi Ujung Pandang dengan alasan politik, antara lain karena Makassar adalah nama sebuah suku bangsa padahal tidak semua penduduk kota Makassar adalah anggota dari etnik Makassar.

Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indonesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asingnya pada tahun 1949 dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an menjadikannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca revolusi. Antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada tahun 1971. Baru pada tahun 1999 kota ini dinamakan kembali Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar dan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah luas wilayah bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut 10.000 Ha, menjadi 27.577Ha [10]

Ujung Pandang sendiri adalah nama sebuah kampung dalam wilayah Kota Makassar. Bermula di dekat Benteng Ujung Pandang sekarang ini, membujurlah suatu tanjung yang ditumbuhi rumpun-rumpun pandan. Sekarang Tanjung ini tidak ada lagi. Nama Ujung Pandang mulai dikenal pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-X, Tunipalangga yang pada tahun 1545 mendirikan benteng Ujung Pandang sebagai kelengkapan benteng-benteng kerajaan Gowa yang sudah ada sebelumnya, antara lain Barombong, Somba Opu, Panakukang dan benteng-benteng kecil lainnya.

Setelah bagian luar benteng selesai, didirikanlah bangunan khas Gowa (Balla Lompoa) di dalamnya yang terbuat dari kayu. Sementara di sekitar benteng terbentuk kampung yang semakin lama semakin ramai. Disanalah kampung Jourpandan (Juppandang). Sedangkan Benteng dijadikan sebagai kota kecil di tepi pantai Losari.

Beberapa tahun kemudian benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan Belanda, usai perang Makassar, dengan disetujuinya Perjanjian Bungaya tahun 1667, benteng itu diserahkan. Kemudian Speelmen mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Bangunan-bangunan bermotif Gowa di Fort Rotterdam perlahan-lahan diganti dengan bangunan gaya barat seperti yang dapat kita saksikan sekarang.

Ihwal nama Kota Makassar berubah menjadi Ujung Pandang terjadi pada tanggal 31 Agustus 1971, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1971. Tak kala itu Kota Makassar dimekarkan dari 21 kilometer persegi menjadi 115,87 Kilometer persegi, terdiri dari 11 wilayah kecamatan dan 62 lingkungan dengan penduduk sekitar 700 ribu jiwa. Pemekaran ini mengadopsi sebagian dari wilayah tiga kabupaten yakni Kabupaten MarosGowa dan Pangkajene Kepulauan. Sebagai “kompensasinya” nama Makassar diubah menjadi Ujung Pandang.

Tentang kejadian bersejarah tersebut, Wali kotamadya Ujung Pandang Kolonel H. M. Daeng Patompo (alm) terpaksa menyetujui perubahan, demi perluasan wilayah kota. Sebab Bupati Gowa Kolonel K. S. Mas’ud dan Bupati Maros Kolonel H.M. Kasim DM menentang keras pemekaran tersebut. Untunglah pertentangan itu dapat diredam setelah Pangkowilhan III Letjen TNI Kemal Idris menjadi penengah, Walhasil Kedua Bupati daerah tersebut, mau menyerahkan sebagian wilayahnya asalkan nama Makassar diganti.

Sejak awal proses perubahan nama Makassar menjadi Ujung Pandang, telah mendapat protes dari kalangan masyarakat. Terutama kalangan budayawan, seniman, sejarawan, pemerhati hukum dan pebisinis. Bahkan ketika itu sempat didekalarasikan Petisi Makassar oleh Prof. Dr. Andi Zainal Abidin Farid SH, Prof. Dr. Mattulada dan Drs. H. D. Mangemba, dari deklarasi petisi Makassar inilah polemik tentang nama terus mengalir dalam bentuk seminar, lokakarya dan sebagainya.

Beberapa seminar yang membahas tentang polemik penggantian nama Makassar antara lain:

  • Seminar Makassar yang dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 1981 di Hotel Raodah, diselenggarakan oleh SOKSI Sulsel.
  • Diskusi panel Makassar Bersinar diselenggarakan 10 Nopember 1991 di gedung Harian Pedoman Rakyat lantai III. “Seminar Penelusuran Hari Lahirnya Makassar”, 21 Agustus 1995 di Makassar Golden Hotel.

Namun Pemerintah Daerah maupun DPRD setempat, tidak juga tergugah untuk mengembalikan nama Makassar pada ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Nasib kota “Daeng” ini nyaris tak menentu, hingga akhirnya dipenghujung masa jabatan Presiden B.J. Habibie, nama Makassar dikembalikan, justru tanpa melalui proses yang berbelit.

Dalam konsideran Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 1999, di antaranya menyebutkan bahwa perubahan itu wujud keinginan masyarakat Ujung Pandang dengan mendapat dukungan DPRD Ujung Pandang dan perubahan ini sejalan dengan pasal 5 ayat (3) Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1999, bahwa perubahan nama daerah, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Seiring perubahan dan pengembalian nama Makassar, maka nama Ujung Pandang kini tinggal kenangan dan selanjutnya semua elemen masyarakat kota mulai dari para budayawan, pemerintah serta masyarakat kemudian mengadakan penelurusan dan pengkajian sejarah Makassar, Hasilnya Pemerintah Daerah Nomor 1 Tahun 2000, menetapkan Hari jadi Kota Makassar, tanggal 9 Nopember 1607. Dan untuk pertama kali Hari Jadi Kota Makassar ke 393, diperingati pada tanggal 9 November 2000. Nama Makassar berasal dari sebuah kata dalam bahasa Makassar “Mangkasarak” yang berarti yang metampakkan diri atau yang bersifat terbuka.

Geografi

Makassar adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi yang dahulu disebut Ujung Pandang, terletak antara 119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Maros, sebelah Timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah Barat adalah Selat Makassar. Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2°(datar) dan kemiringan lahan 3-15° (bergelombang). Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi.

Kota Makassar adalah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara dan juga dikenal sebagai “Waterfront City” yang di dalamnya mengalir beberapa sungai seperti Sungai Tallo, Sungai Jeneberang, dan Sungai Pampang) yang kesemuanya bermuara ke dalam kota. Kota Makassar merupakan hamparan daratan rendah yang berada pada ketinggian antara 0-25 meter dari permukaan laut.[

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Jasa Kirim Mobil Terpercaya

X
Chat Kami
Terima Kasih,
Telah berkunjung di rolcas.com
Ada yang bisa kami bantu, Silakan Chat kami disini ?